Kamis, 13 Februari 2014

Agungnya Fadhilah Tauhidulloh* Bagaimana Kita Meraihnya

Oleh: Ust. Abu Ammar al-Ghoyami

 


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ (٥٦)
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. (QS. adz-Dzariyat [51]: 56)
Begitulah firman Alloh azza wajalla yang sering kita baca dan kita dengar. Dalam firman-Nya tersebut Alloh azza wajalla menyebutkan hikmah yang sangat agung dari diciptakannya kita semua sebagai manusia, yaitu agar kita beribadah kepada-Nya semata.
Dalam ayat lain Alloh azza wajalla menyeru kita semua agar beribadah kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (٢١)
Hai manusia, beribadahlah kepada Robbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu agar kamu bertaqwa. (QS. al-Baqoroh [2]: 21)
Itulah tuntutan yang telah diserukan oleh Alloh, Robbul ‘alamin, kepada kita semua sebagai para hamba. Yaitu agar kita semua menjadi hamba-hamba-Nya yang senantiasa mentauhidkan-Nya dalam seluruh peribadahan kita.
Fadhilah Tauhid dan Ahli Tauhid
Bila kita pelajari tauhid dengan seksama maka kita akan dapati bahwa ia memiliki beberapa faedah dan fadhilah yang begitu agung, di antaranya:
(1) Tauhid merupakan sekuat-kuat motivasi untuk mencintai ketaatan kepada Alloh subhanahu wata’ala. Bagaimana tidak, sedangkan orang yang bertauhid senantiasa beribadah kepada Alloh azza wajalla di setiap saat dan setiap tempat. Tidak seperti orang-orang yang ibadahnya dibarengi dengan riya’, di mana ia hanya beribadah bila ibadahnya itu akan dilihat oleh orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa orang yang bertauhid itu sempurna imannya kepada Alloh subhanahu wata’ala Yang Maha Mengetahui sesuatu yang tersembunyi terlebih lagi yang terang-terangan.
(2) Orang-orang yang bertauhid adalah hamba-hamba yang mendapat jaminan keamanan dan petunjuk di dunia dan akhirat. Mereka aman dari keburukan-keburukan yang dikhawatirkan akan menimpa, dan mendapat petunjuk untuk memahami syari’at Alloh azza wajalla dan mengamalkannya. Dan yang lebih besar dari itu semua adalah mereka akan mendapat petunjuk jalan menuju Surga.
Alloh subhanahu wata’ala berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ (٨٢)
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezholiman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. al-’An’am [6]: 82)
(3) Orang yang bertauhid dan mengamalkannya dengan keyakinan dalam hati, pengikraran dengan lisan, dan pembenaran dengan amalan anggota badan; maka amalan jeleknya akan diampuni oleh Alloh subhanahu wata’ala dan ia akan dimasukkan ke dalam Surga. Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنْ الْعَمَلِ
“Siapa yang bersaksi bahwa tidak ada illah yang berhak diibadahi selain Alloh semata, tiada sekutu bagi-Nya dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan bahwa Isa adalah hamba Alloh dan utusan-Nya serta kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan ruh dari pada-Nya, dan bahwa Surga itu benar adanya, dan neraka itu benar adanya; niscaya Alloh subhanahu wata’ala akan memasukkannya ke dalam Surga betapa pun amalan yang diperbuatnya.” (HR. Bukhori: 2/486 dan Muslim: 1/57)
(4) Bahkan Alloh azza wajalla akan mencegah neraka agar tidak menimpa orang yang bertauhid yang hanya mengharap wajah Alloh azza wajalla semata, yaitu yang dengan ikhlas mengamalkan tauhidnya.
Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ
“Sesungguhnya Alloh subhanahu wata’ala mengharamkan neraka atas orang yang mengucapkan laa ilaaha illalloh dengan ikhlas dan mengharap wajah Alloh.” (HR. Bukhori: 1/154 dan Muslim: 1/455)
(5) Tauhid yang murni yang tidak tercampur kesyirikan sedikit pun akan menghapuskan dosa-dosa sebesar dan sebanyak apapun. Dalam sebuah Hadits Qudsi Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan bahwa Alloh azza wajalla berfirman:
يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً
“Wahai anak Adam, sungguh seandainya kamu mendatangi-Ku (saat kematianmu) dengan membawa dosa-dosa sepenuh bumi lalu kamu menjumpai-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Ku, niscaya benar-benar Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi: 3540, dishohihkan oleh al-Albani rahimahullahu ta’ala dalam Shohih Sunan at-Tirmidzi)
(6) Lebih dari itu, tauhid yang murni lagi tulus yang terealisasikan dengan sebaik-baiknya dalam kehidupan seorang muslim, niscaya ia akan masuk Surga tanpa dihisab dan tanpa diadzab sedikit pun.
Dalam sebuah riwayat bahwa Sa’id bin Jubair radhiyallahu anhu menuturkan sebuah hadits dari sahabat Abdulloh bin Abbas radhiyallahu anhu dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:
عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّهْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ إِذْ رُفِعَ لِي سَوَادٌ عَظِيمٌ فَظَنَنْتُ أَنَّهُمْ أُمَّتِي فَقِيلَ لِي هَذَا مُوسَى عَلَيْهِ السَلامُ وَقَوْمُهُ فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي هَذِهِ أُمَّتُكَ وَمَعَهُمْ سَبْعُونَ أَلْفًا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ
“Telah dipertunjukkan kepadaku umat-umat. Aku melihat seorang nabi, bersamanya ada beberapa orang (pengikut); dan seorang nabi, bersamanya ada satu dan dua orang (pengikut); serta seorang nabi, dan tak ada seorang (pengikut) pun bersamanya. Tiba-tiba ditampakkan kepadaku sekelompok (manusia) yang banyak jumlahnya, aku mengira bahwa mereka itu adalah umatku, tetapi dikatakan kepadaku: ‘Ini adalah Musa alaihis salam bersama kaumnya’. Kemudian tiba-tiba aku melihat lagi sekelompok (manusia) yang banyak jumlahnya, maka dikatakan kepadaku: ‘Ini umatmu, dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang masuk Surga tanpa hisab dan tanpa adzab’”.
Kemudian bangkitlah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan segera memasuki rumahnya. Maka manusia pun memperbincangkan tentang siapakah mereka itu (tujuh puluh ribu orang yang masuk Surga tanpa hisab dan tanpa adzab). Ada di antara mereka yang berkata: “Mungkin mereka itu yang menjadi sahabat Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam”. Ada lagi yang berkata: “Mungkin saja mereka itu orang-orang yang dilahirkan dalam Islam kemudian mereka tidak pernah berbuat syirik sedikit pun kepada Alloh subhanahu wata’ala”. Dan mereka menyebutkan lagi beberapa perkara yang lain. Ketika Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam keluar, mereka memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Maka beliau bersabda:
هُمْ الَّذِينَ لَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَلَا يَتَطَيَّرُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah, tidak meminta supaya sakitnya ditempel dengan besi yang dipanaskan, dan tidak melakukan tathoyyur[1] dan mereka pun bertawakkal kepada Robb mereka”. (HR. Bukhori: 4/199 dan Muslim: 1/199)
Sungguh kita telah diseru kepada tauhid agar menjadi hamba yang bertauhid, sebagaimana dua ayat yang tersebut di awal kajian kita ini. Dan kalau kita mau memahami dan mau jujur kepada diri kita sendiri, kita akan tahu bahwa seruan Alloh azza wajalla yang sekaligus merupakan perintah bagi kita semua ini menunjukkan atas betapa Dia subhanahu wata’ala adalah Robb yang sangat besar kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Yang demikian itu akan kita yakini tatkala kita telah mengetahui keutamaan tauhid yang sedemikian agung dan sangat berharga bagi kita. Berarti tatkala Alloh azza wajalla memerintahkan kepada kita agar beribadah kepada-Nya maknanya Alloh azza wajalla telah memerintahkan kepada kita agar segera meraih keutamaan tauhid tersebut dan segera mendapatkannya.
Bagaimana Kita Mentauhidkan Alloh azza wajalla?
Sesuai dengan pemahaman Ahlus sunnah wal jama’ah, tauhid ialah sebuah keyakinan akan keesaan Alloh subhanahu wata’ala. Maksudnya ialah mengesakan Alloh subhanahu wata’ala dengan sesuatu yang khusus bagi-Nya semata berupa hak Rububiyah, Uluhiyah, dan al-Asma’ul Husna (nama-nama-Nya azza wajalla yang baik dan sempurna) serta ash-Shifatul ‘Ulya (sifat-sifat-Nya azza wajalla yang mulia lagi tinggi). Sehingga untuk meraih keutamaan tauhid, seseorang harus mengesakan Alloh azza wajalla dalam ketiga hak-hak-Nya tersebut.
Mengesakan Alloh azza wajalla dengan hak Rububiyah artinya ialah mengesakan Alloh azza wajalla dengan hak mencipta, kepemilikan dan penguasaan serta pengaturan makhluk-Nya. Mengesakan Alloh subhanahu wata’ala dengan hak mencipta artinya seseorang meyakini bahwa tidak ada seorang pencipta selain Alloh azza wajalla. Sedangkan mengesakan Alloh azza wajalla dengan hak kepemilikan dan penguasaan ialah seseorang meyakini bahwa tidak ada yang memiliki dan menguasai makhluk selain Penciptanya, yaitu Alloh azza wajalla semata. Adapun mengesakan Alloh subhanahu wata’ala dengan hak pengaturan ialah seseorang meyakini bahwa tidak ada yang mengatur makhluk-makhluk seluruhnya selain Alloh azza wajalla semata.
Mengesakan Alloh subhanahu wata’ala dengan hak-hak Uluhiyah artinya mengesakan Alloh subhanahu wata’ala dalam seluruh peribadahan. Seseorang harus meyakini bahwa tidak ada yang berhak diibadahi selain Alloh azza wajalla semata, sehingga ia pun hanya menghambakan diri kepada Alloh azza wajalla semata, mengesakan-Nya dengan penuh ketundukan, kecintaan serta pengagungan, dan beribadah kepada-Nya dengan sesuatu yang disyari’atkan oleh-Nya azza wajalla dan ia menjauhkan diri dari beribadah kepada sesuatu yang disekutukan dengan-Nya azza wajalla.
Adapun mengesakan Alloh subhanahu wata’ala dengan al-Asma’ul Husna serta ash-Shifatul ‘Ulya artinya meyakini bahwa nama-nama serta sifat-sifat yang dimiliki-Nya hanya untuk-Nya semata dan tidak ada yang berhak menyandangnya sedikit pun selain Dia azza wajalla. Pengesaan Alloh subhanahu wata’ala yang ketiga ini terwujud dengan dua perkara sekaligus, yaitu penetapan dan peniadaan. Maksudnya, penetapan seluruh al-Asma’ul Husna maupun seluruh ash-Shifatul ‘Ulya yang telah Alloh subhanahu wata’ala tetapkan untuk diri-Nya azza wajalla di dalam al-Qur’an dan di dalam hadits Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam hanya bagi-Nya semata, sekaligus disertai dengan peniadaan sesuatu pun yang menandingi-Nya dalam al-Asma’ul Husna serta ash-Shifatul ‘Ulya tersebut. Sehingga kewajiban kita ialah beriman dengan al-Asma’ul Husna yang Alloh subhanahu wata’ala telah menyebut diri-Nya dengannya di dalam kitab-Nya, maupun yang Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyebut-Nya dengannya di dalam hadits-hadits yang shohih. Juga beriman dengan ash-Shifatul ‘Ulya yang Alloh subhanahu wata’ala telah menyifati diri-Nya dengannya di dalam kitab-Nya maupun yang Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyifati-Nya dengannya di dalam hadits-hadits yang shohih. Semuanya kita imani tanpa mengubah atau menyimpangkan maknanya, tidak pula membuangnya dan menanyakan bagaimana (hakikatnya)?, serta tidak pula menyerupakannya dengan makhluk-Nya azza wajalla.
Seorang yang beriman kepada Alloh azza wajalla akan sempurna tauhidnya bila ia telah menyempurnakan ketiga macam tauhid tersebut seluruhnya. Dengan keimanan dan penetapan serta perealisasian ketiga tauhid tersebut berarti ia telah benar-benar memiliki tauhidulloh, sehingga menjadilah ia seorang muwahhid (orang yang bertauhid atau ahli tauhid) yang sesungguhnya yang berhak mendapat keutamaannya. Semoga Alloh subhanahu wata’ala menjadikan kita semua termasuk hamba-hamba yang bertauhid kepada-Nya, Amin.

Tiga Inti Ajaran Islam

Diiringi panjatan do’a dan sanjungan serta pujian hanya bagi Alloh semata atas segala kenikmatan serta ma’unah (pertolongan) yang tercurah kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari para hamba-Nya. Kemudian diiringi panjatan sholawat bagi baginda Rosululloh Muhammad bin Abdulloh, bagi keluarga, para sahabat, serta seluruh pengikut beliau yang tulus setia meniti jalan hidup beliau dan menaati ajaran beliau sampai hari kiamat.
Pada majelis kita kali ini kami mengajak sidang pembaca untuk membahas “tiga inti ajaran Islam” yang merupakan salah satu karakteristik Islam yang paling pokok. Kami berharap semoga dengan mengenal serta mengilmui ketiganya kita bisa meluruskan pemahaman sekaligus amalan kita sebagai wujud ukhuwwah (persaudaraan) dan kebersamaan di bawah naungan panji agama Islam.
Pertama:
Berserah Diri Kepada Alloh Dengan Mentauhidkan-Nya
Inti ajaran Islam pertama adalah berserah diri sepenuh jiwa dan raga hanya kepada Alloh yang didasari kemurnian tauhid kepada-Nya semata. “Berserah diri” di sini bermakna menghinakan dan merendahkan diri disertai ketundukan yang tulus dari setiap hamba kepada penciptanya. Sehingga secara utuh maknanya seorang hamba berserah diri, patuh lagi tunduk kepada Alloh untuk meninggikan keesaan-Nya dalam hak-hak berkehendak dan berbuat yang melazimkan keesaan-Nya dalam hak-hak peribadahan. Inilah hakikat mentauhidkan Alloh, yaitu yang disebut tauhid ibadah, bermakna diunjukkannya seluruh peribadahan hamba hanya kepada-Nya semata.
Ketahuilah, mentauhidkan Alloh dengan seluruh peribadahan merupakan hal yang paling besar dalam ajaran Islam. Keagungan peribadahan ini tersirat dari penyebutannya di dalam Kitabulloh (al-Qur’an) dan dalam hadits-hadits Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia merupakan perintah Alloh yang pertama dan seruan awal para rosul utusan-Nya kepada manusia, bahkan para rosul itu diutus demi tujuan tauhid ibadah tersebut.[1] Demikian juga tidaklah didapati fi’il[2] yang pertama kali disebutkan dalam al-Qur’an selain peribadahan kepada-Nya[3]. Dan tidaklah Alloh memerintah manusia dengan fi’il amr[4] yang pertama kali disebutkan di dalam al-Qur’an selain fi’il amr untuk beribadah kepada-Nya[5]. Ini hanya sebagian hikmah Alloh yang mengisyaratkan pada keutamaan ketundukan seorang hamba dengan tauhid ibadah kepada-Nya semata.
Alloh menyebutkan bahwa tauhid adalah millah[6] Nabi Ibrohim alaihis salam, dan kita diwajibkan untuk menitinya. Sebagaimana Alloh menyebutkan teladan dalam berserah diri kepada-Nya pada diri Nabi Ibrohim dan anak-anak serta pengikutnya sehingga kita harus meneladaninya dan tidak membencinya.[7]
Berserah diri, tunduk, dan merendah yang dilakukan oleh seorang muslim merupakan kewajiban yang telah diperintahkan untuk senantiasa dilakukan selama hayat masih dikandung badan[8], dan dia harus melakukan seluruh ritual peribadahannya kepada Alloh disebabkan cinta dan rindunya yang mendalam kepada-Nya. Sebagaimana dia harus merendahkan diri serta menundukkan keangkuhannya di hadapan Alloh dengan harapan yang tinggi lagi besar kepada ridho dan rohmat-Nya serta dengan perasaan takut, cemas, dan khawatir akan murka dan siksa-Nya. Alloh telah berfirman:
Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami. (QS. al-Anbiya’ [21]: 90)
Dalam ayat di atas disebutkan bahwa berserah dirinya seorang muslim kepada Alloh harus terwujud dalam bentuk amalan sholih dan kebaikan yang didasari keikhlasan hanya kepada-Nya semata. Itulah sesungguhnya hakikat khusyu’, yaitu sikap merendah seorang hamba di hadapan penciptanya yang ia yakin akan kebesaran dzat-Nya dan ketinggian serta keagungan sifat-Nya.
Nampak jelaslah bahwa berserah diri kepada Alloh yang dimaksudkan di sini tidak sama dengan berserah diri kepada taqdir; bila seseorang telah menerima taqdir Alloh—apapun bentuk dan cita rasanya—maka berarti ia telah berserah diri kepada-Nya. Bukan itu maksudnya! Akan tetapi, seseorang dikatakan telah berserah diri kepada Alloh bila ia telah mencurahkan waktu, daya, dan upayanya untuk beramal ibadah kepada Alloh semata, bahkan selama hayat masih dikandung badan ia harus melakukannya. Maka pahamilah wahai kaum!
Kedua:
Mewujudkan Ketaatan Atas Segala Perintah Alloh dan Menjauhi Larangan-Nya

Mengapa Islam memerintahkan manusia untuk taat kepada perintah Alloh dan Rosul-Nya, apa faedah yang akan didapati oleh mereka yang taat, apa pula celakanya bila mereka tidak taat? Pertanyaan seperti ini mungkin yang sering menutupi fithroh suci setiap orang yang enggan untuk taat.
Ada satu hal yang harus selalu kita ingat, yaitu bahwa Alloh telah mengutus para rosul kepada seluruh umat, bahkan tiada suatu umat pun melainkan Alloh telah mengutus kepada mereka seorang rosul. Alloh juga menyebutkan tujuan diutusnya mereka guna menyampaikan kabar gembira sekaligus peringatan serta ancaman. Alloh berfirman:
Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan. (QS. Fathir [35]: 24)
Kabar gembira dan peringatan tersebut disampaikan kepada seluruh umat ini, yaitu kabar gembira bagi umat yang taat dan peringatan serta ancaman bagi mereka-mereka yang enggan.
Ketahuilah, ketaatan apapun yang dilakukan oleh manusia pada hakikatnya adalah untuk kebaikan diri mereka sendiri dan bukan untuk membahagiakan Alloh dengan ditaati-Nya.[9] Sungguh, ketaatan manusia kepada Alloh dan rosul-Nya merupakan kebutuhan asasi disebabkan butuhnya mereka kepada rohmat Alloh, penciptanya. Oleh sebab itu, Alloh memerintahkan manusia untuk taat kepada-Nya dan taat kepada rosul-Nya, yaitu agar mereka dirohmati oleh Robb seru sekalian alam. Ini adalah sebagian kabar gembira yang dibawa oleh para rosul. Alloh berfirman:
Dan taatilah Alloh dan rosul, supaya kamu diberi rohmat. (QS. Ali Imron [3]: 132)
Telah kita ketahui bahwa Alloh telah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita—sebagai umat terakhir—sebagaimana Dia pun telah menurunkan al-Qur’an bersama beliau. Seperti halnya para rosul sebelum beliau, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pun diutus dengan membawa kabar gembira sekaligus peringatan bagi kita.[10] Maka perhatikanlah firman Alloh sebagai kabar gembira bagi kaum yang taat (yang artinya):
… barangsiapa taat kepada Alloh dan Rosul-Nya, niscaya Alloh memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. (QS. an-Nisa’ [4]: 13)
Di dalam ayat selanjutnya Alloh berfirman tentang ancaman bagi mereka-mereka yang lalim lagi durhaka (yang artinya):
Dan barangsiapa yang mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Alloh memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (QS. an-Nisa’ [4]: 14)
Mungkin ada yang mengatakan ancaman tersebut sekedar ancaman, sebagaimana kabar gembira itu hanya sekedar janji. Aduhai, sungguh besar kecelakaan dan sungguh gelap jalan mereka, yakinlah bahwa tiada seorang pun yang mengatakan demikian melainkan ia sangat jahil bahkan telah tersesat di lembah hitam kekufuran.
Sudahkah mereka belajar dari umat-umat yang terdahulu? Sudahkah mereka tahu bahwa Alloh pun telah memerintahkan supaya kita mengambil pelajaran dari umat-umat yang terdahulu?[11]
Ingatlah kesudahan kaum ‘Ad yang mengerikan, mengapa angin yang sangat dingin lagi sangat kencang menerpa mereka selama tujuh hari delapan malam sehingga mereka binasa sama sekali dan tidak menyisakan seorang pun? Ingatlah kesudahan kaum Tsamud yang celaka, mengapa petir yang sangat besar dengan suara mengguntur yang memekakkan lagi mematikan membinasakan mereka? Ingatlah pula kesudahan kaum Nabi Luth alaihis salam yang menjijikkan, gerangan apa sebabnya negeri tempat tinggal mereka dibalikkan sedangkan hujan batu yang panas membakar menerpa mereka hingga binasa? Sejarah telah menjadi saksi bahwa kaum ‘Ad telah durhaka kepada Nabi Hud alaihis salam, kaum Tsamud tidak taat kepada Nabi Sholih alaihis salam, sementara kaum Nabi Luth alaihis salam enggan dan berpaling dari seruan beliau.[12]
Ingatlah juga kapal penyelamat Nabi Nuh alaihis salam, bagaimana air telah menenggelamkan seluruh manusia dan tiada tersisa seorang pun di muka bumi ini selain yang taat mengikuti Nabi Nuh alaihis salam dan menumpang di atas kapal yang Alloh perintahkan Nabi Nuh alaihis salam untuk membuatnya?[13] Sungguh ini adalah keterangan yang nyata, maka ambillah pelajaran wahai kaum![14] Akankah kesombonganmu tetap mengalahkan fithrohmu?
Maka jelaslah bahwa hanya mereka yang enggan taat lantaran sombonglah yang menolak kejelasan perkara yang terang-benderang—laksana matahari di siang hari—ini. Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan kejelasan masalah ini dalam sabda beliau:
“Seluruh umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan!” Para sahabat bertanya: “Siapa orang yang enggan (masuk surga), wahai Rosululloh?” Beliau menjawab: “Barangsiapa yang taat kepadaku niscaya akan masuk surga, dan siapa saja yang mendurhakaiku dialah orang yang enggan (masuk surga).” Dalam riwayat lain beliau bersabda: “… dan siapa saja yang mendurhakaiku niscaya akan masuk neraka.”[15]
Setelah semuanya jelas, kini ketahuilah bahwa “ketaatan” itu disebut “ketaatan” apabila berupa ketekunan melaksanakan perintah seiring dengan senantiasa waspada untuk meninggalkan larangan. Bila seseorang hanya melaksanakan perintah saja, dia masih belum dikatakan taat sehingga dia juga meninggalkan larangan. Demikian juga, bila seseorang hanya meninggalkan larangan namun tidak melaksanakan perintah tidaklah disebut orang yang taat sehingga dia menegakkan perintah-perintah.
Ketahuilah bahwa perintah yang paling awal, paling agung, dan paling utama adalah mentauhidkan Alloh dengan seluruh peribadahan sebagaimana hal ini telah jelas pada inti ajaran Islam yang pertama. Sebaliknya, larangan yang paling besar dan paling utama untuk ditinggalkan adalah menduakan Alloh dengan makhluk-Nya sebagai pemilik hak peribadahan, ialah dosa syirik, mempersekutukan Alloh dengan makhluk-Nya. Maka ketaatan seorang muslim yang paling utama ialah ia mengesakan Alloh dengan seluruh macam ibadah seiring dengan ia tinggalkan kesyirikan serta para pelakunya. Lebih lanjut hal ini akan kita pahami pada inti ajaran Islam yang ketiga berikut ini.
Ketiga:
Berlepas Diri dari Kesyirikan dan Pelakunya
Kewajiban awal bagi setiap muslim adalah bertauhid yang murni lagi tulus seiring dengan berlepas diri dan cuci tangan dari kesyirikan. Perhatikanlah apa yang telah Alloh perintahkan dan dari apa yang kita dilarang-Nya dalam ayat berikut:
Ibadahilah Alloh dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun…. (QS. an-Nisa’ [4]: 36)
Di sini Alloh subhanahu wata’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk beribadah kepada-Nya dan melarang mereka dari mempersekutukan-Nya. Hal ini mengandung penetapan hak peribadahan hanya bagi-Nya semata. Sehingga siapa yang tidak beribadah kepada-Nya maka ia kafir lagi congkak, dan siapa yang beribadah kepada Alloh disertai peribadahan kepada selain-Nya maka ia kafir lagi musyrik, sedangkan siapa saja yang hanya beribadah kepada-Nya semata ialah muslim yang mukhlish.[16]
Ketahuilah, berlepas diri dari kesyirikan itu mengharuskan berlepas diri dari para pelakunya. Tatkala seseorang berusaha menyucikan diri dari kesyirikan maka usahanya itu mengharuskannya membersihkan diri dari hubungan baik dengan para pelaku kesyirikan di atas kesyirikan mereka. Sungguh Alloh telah menunjuk teladan yang baik dalam masalah ini pada diri Nabi Ibrohim alaihis salam dan kaumnya.[17]
Akhirnya, semoga Alloh menuntun kita semua meniti jalan-Nya yang lurus dalam ber-Islam yang sesuai dengan kehendak-Nya.

[1] Lihat QS. al-Anbiya’ [21]: 25.
[2] Fi’il: kata kerja
[3] Fi’il yang pertama kali disebutkan dalam al-Qur’an terdapat dalam surat al-Fatihah ayat 4, yaitu kata na’budu yang berarti “kami beribadah”. Dan tidak ada kata kerja lainnya yang mendahuluinya dalam surat tersebut yang merupakan surat pertama dalam al-Qur’an sesuai urutan dalam Mushhaf Utsmani.
[4] Fi’il amr dalam bahasa Indonesia disebut “kata perintah”.
[5] Fi’il amr yang pertama kali disebutkan dalam al-Qur’an terdapat dalam surat al-Baqoroh ayat 21, yaitu kata u’budu yang berarti “beribadahlah kalian”. Dan tidak ada kata perintah lainnya yang mendahuluinya dari ayat-ayat sebelumnya sampai awal al-Qur’an.
[6] Millah: agama atau jalan hidup
[7] QS. al-Baqoroh [2]: 130–132
[8] QS. al-An’am [6]: 162–163
[9] QS. Fushshilat [41]: 46
[10] QS. al-Baqoroh [2]: 119
[11] QS. Yusuf [12]: 109
[12] Lihat QS. Hud [11]: 50–83, QS. al-Haqqoh [69]: 4–8.
[13] Lihat QS. Hud [11]: 25–49.
[14] Lihat QS. al-Hajj [22]: 46.
[15] Hadits shohih riwayat Bukhori, kitab al-I’tishom bil Kitab was Sunnah bab al-iqtida’ bi sunani Rosulillah shallallahu ‘alaihi wasallam.
[16] Syarh Tsalatsatul Ushul, Syaikh Muhammad al-Utsaimin, hlm. 42. Mukhlish artinya yang tulus ibadahnya hanya untuk Alloh subhanahu wata’ala.
[17] Lihat QS. al-Mujadilah [58]: 22 dan QS. al-Mumtahanah [60]: 4.

Rabu, 12 Februari 2014

KEUTAMAAN PUASA SENIN KAMIS

~ Besok insyaAllah hari KAMIS ~
@Silahkan dishare, Semoga bermanfaat.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa pada hari Senin maka beliau bersabda:
"Itu adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus sebagai Nabi, atau hari diturunkannya al-Qur'an kepadaku."

Di dalam riwayat yang bersumber dari Aisyah radhiyallahu ‘anha dia berkata, "Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa menjaga puasa Senin dan Kamis. (HR. Lima Imam ahli hadits, kecuali Abu Dawud).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
"Amal-amal itu diperlihatkan pada hari Senin dan Kamis, maka aku senang jika amalku ditampakkan pada saat aku sedang berpuasa." (HR at-Tirmidzi).

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dan dimudahkan untuk mengamalkannya. Aamiin.

Besok insyaAllah hari SENIN, mari kita amalkan dan ingatkan teman-teman yang lain dengan amalan ini!

-Mari terus berbagi KEBAIKAN-
Silahkan dibagikan/share, semoga menjadi KEBAIKAN Anda. Aamiin.

Info KHUSUS Untuk sahabat Pencinta Ilmu : Dapatkan Buku-Buku Islami Pilihan, beragam tema penting & bermanfaat untuk Anda. Koleksi BUKU BAGUS terus bertambah.

Yuk Cek Updatenya! KLIK DI SINI > http://goo.gl/YHxwDy.

Bersegeralah Beramal Sebelum Datang 7 Hal

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata:

Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda:
"Bersegeralah kalian untuk beramal sebelum datangnya 7 perkara.Apakah kamu harus menantikan
 kemiskinan yg dapat melupakan,  kekayaan yg dapat menimbulkan kesombongan, sakit yg dapat mengendorkan , tua renta yg dapat melemahkan mati yg dapat menyudahi segala2nya, atau menunggu datangnya Dajjal, padahal dia adalah sejelek2 sesuatu yg ditunggu atau menunggu datangnya hari kiamat, padahal kiamat adalah sesuatu yg amat berat dan amat menakutkan."
(HR. Tirmidzi)

Pria Dilarang Memakai Emas

Subhanallah, Terungkap Alasan Ilmiah Kenapa Pria Dilarang Memakai EmasDikirim oleh aan | Pada 21 September,2013 | Dalam Dunia Islam, Muhammad SAW
Atom pada emas mampu menembus ke dalam kulit melalui pori2 dan masuk ke dalam darah manusia. Jikaseorang p
ria mengenakan emas dalam jumlah tertentu dan dalam jangka waktu yang lama, maka dampak yang ditimbulkan yaitu di dalam darah dan urine akan mengandung atom emas dalam kadar yang melebihi batas (dikenal dengan sebutan migrasi emas).

Dan apabila ini terjadi dalam jangka waktu yang lama, maka akan mengakibatkan penyakit Alzheimer.sebab ­jika tidak di buang maka dalam jangka waktu yang lama atom emas dalam darah ini akan sampai ke otak dan memicu penyakit alzheimer.
Alzheimer adalah suatu penyakit dimana orang tersebut kehilangan semua kemampuan mental dan fisik serta menyebabkan kembali seperti anak kecil. Alzheimer bukan penuaan normal,tetapi merupakan penuaan paksaan atau terpaksa.salah seorang yang terkena penyakit alzheimer adalah charles bronson, ralph waldo emerson dan sugar ray robinson.
Sedangkan, mengapa Islam memperbolehkan wanita untuk mengenakan emas ?
Jawabannya adalah..
“Wanita tidak menderita masalah ini karena setiap bulan, partikel berbahaya tersebut keluar dari tubuh wanita melalui menstruasi.” itulah sebabnya islam mengharamkan pria memakai emas dan membolehkan wanita memakai perhiasan emas.
itulah alasan agama Islam melarang pria memakai emas,ternyata hal ini telah diketahui Nabi Muhammad 1400 tahun yang lalu. Padahal beliau tidak pernah belajar ilmu fisika.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang kaum laki-laki memakai cincin emas.
Al-Bukhari dan Muslim masing-masing dari Al-Bara’ bin Azib Radhiyallahu ‘anhu, bahwa ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki memakai cincin emas di tangannya, maka beliau memintanya supaya mencopot cincinnya, kemudian melemparkannya ke tanah. (HR. Bukhori & Muslim)


 

PESAN NABI

Dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim diriwayatkan dari Abu ‘Umarah al-Bara’ bin ‘Azib Radliyallahu 'anhuma katanya, “Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam MENYURUH kami :

- menjenguk orang sakit,
- mengiringi jenazah,
- mendoakan orang bersin,
- melepaskan sumpah orang yang bersumpah,
- menolong orang yang dizalimi,
- memenuhi undangan dan
- memberi salam apabila bertemu.

Baginda MELARANG kami dari

- memakai cincin emas,
- minum dengan bekas yang dibuat daripada perak,
- menggunakan lapik duduk sutera dan
- memakai pakaian yang dibuat daripada sutera, sutera tebal dan sutera Dibaj(dari Yaman)”.

Dalam riwayat lain, ditambah perkara yang disuruh mengerjakannya iaitu:
- menanyakan barang yang hilang dan belum dijumpai.

uraian HaditS:

1. Melepaskan sumpah orang yang bersumpah bermaksud, melaksanakan apa yang diminta secara bersunggguh-sungguh engkau melakukannya sehingga menyebabkan dia bersumpah, seperti katanya: “Demi Allah, engkau mesti melakukan sekian dan sekian.

2. Perkara yang disuruh oleh nabi SAW iaitu:

- Memberi salam apabila bertemu.
- Memenuhi undangan.
- Memberi nasihat jika diminta.
- Mendoakan dengan ucapan “يرحمك الله” setelah orang bersin menyebut “الحمد لله”.
- Menjenguk orang yang sakit.
- Mengiringi jenazah ke tanah perkuburan.
- Menolong orang yang dizalimi.
- Menanyakan barang yang hilang (menghebahkan)

3. Perkara-perkara yang dilarang oleh nabi melakukannya:

- Memakai cincin emas bagi lelaki dan bukan bagi perempuan.
- Minum dengan menggunakan bekas emas dan perak bagi lelaki maupun perempuan.
- Menggunakan lapik duduk yang diperbuat daripada sutera yang diisi degan kapas atau sebagainya bagi lelaki.
- Memakai pakaian yang dibuat dari sutera dan campuran dengan yang lain, sutera yang dipanggil ‘Istibrak’ dan sutera tebal yang dipanggil ‘Dibaj’ (semuanya bagi lelaki).

7 SUNNAH RASULULLAH YANG HARUS DIJAGA"

Cerdasnya orang yang beriman adalah, dia yang mampu mengolah hidupnya yang sesaat, yang sekejap untuk hidup yang panjang. Hidup bukan untuk hidup, tetapi hidup untuk Yang Maha Hidup. Hidup bukan untuk mati,tapi mati itulah untuk hidup.
Kita jangan takut mati, jangan mencari mati, jangan lupakan mati, tapi rindukan mati. Karena, mati adalah pintu berjumpa dengan Allah SWT.

Mati bukanlah cerita dalam akhir hidup,tapi mati adalah awal cerita sebenarnya, maka sambutlah kematian dengan penuh ketakwaan.

Hendaknya kita selalu menjaga tujuh sunnah Nabi setiap hari. Ketujuh sunnah Nabi SAW itu adalah:

1, Tahajjud
karena kemuliaan seorang mukmin terletak pada tahajjudnya.

2, membaca Al-Qur’an sebelum terbit matahari
Alangkah baiknya sebelum mata melihat dunia, sebaiknya mata membaca Al-Qur’an terlebih dahulu dengan penuh pemahaman.

3,
Jangan tinggalkan masjid terutama di waktu shubuh. Sebelum melangkah kemana pun langkahkan kaki ke masjid, karena masjid merupakan pusat keberkahan, bukan karena panggilan muadzin tetapi panggilan Allah yang mencari orang beriman untuk memakmurkan masjid Allah.

4,
jaga shalat Dhuhakarena kunci rezeki terletak pada shalat dhuha.

5.
jaga sedekah setiap hari.
Allah menyukai orang yang suka bersedekah, dan malaikat Allah selalu mendoakan kepada orang yang bersedekahsetiap hari.

6
jaga wudhu terus menerus karena Allah menyayangi hamba yang berwudhu. Kata khalifah Ali bin Abu Thalib, “Orang yang selalu berwudhu senantiasa ia akan merasa selalu shalat walau ia sedang tidak shalat, dan dijaga oleh malaikat dengan dua doa, ampuni dosa dan sayangi dia ya Allah”.

7, amalkan istighfar setiap saat.
Dengan istighfar masalah yang terjadi karena dosa kita akan dijauhkan oleh Allah.
Dzikir, kata Arifin Ilham, adalah bukti syukur kita kepada Allah. Bila kita kurang bersyukur, maka kita kurang berdzikir pula, oleh karena itu setiap waktu harus selalu ada penghayatan dalam melaksanakan ibadah dan ibadah ajaran Islam lainnya.

“Dzikir merupakanmakanan rohani yang paling bergizi,” katanya, dan dengan dzikir berbagai kejahatan seperti narkoba, KKN, danlainnya dapat ditangkal sehingga jauhlah umat manusia darisifat-sifat hewani yang berpangkal pada materialismedan hedonisme..

---
Baca juga artikel dan tausyiah lainnya di Unik dan Keren

Copyright @ 2013 Islam is beautiful .